KasMha PyrooLiers Chemistry
Selasa, 26 April 2016
ALKALI DAN ALKALI TANAH
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Lebih dari delapan puluh unsur yang ada di dalam sistem periodik unsur adalah logam. Logam bersifat padat pada temperatur dan tekanan standar dengan pengecualian merkuri dan gallium yang keduanya berupa cairan. Sifat-sifat logam yaitu mempunyai konduktovitas termal dan listrik yang tinggi, berkilau dan memancarkan cahaya serta dapat ditempa (Syamsidar, 2013: 19).
Umumnya logam diidentifikasikan dengan padatan yang keras, rapat dan tidak reaktif. Kenyataannya logam-logam alkali berlawanan dengan sifat-sifat tersebut yakni rapatan massa rendah, lunak (rapuh) dan sangat reaktif. Semua logam alkali (Li, Na, K, Rb, Cs, dan Fr) mengkilat berwarna keperakan, mempunyai tukonduktivitas listrik dan panas yang tinggi. Logam alkali bersifat sangat lunak, semakin lunak dengan naiknya nomor atom. Unsur-unsur golongan memiliki sifat basa dan banyak ditemukan dalam mineral tanah. Logam alkali tanah umumnya reaktif, tetapi kurang reaktif dibandingkan dengan logam alkali. Di alam unsur alkali tanah terdapat dalam bentuk senyawa begitu pula dengan logam alkali (Syamsidar, 2013: 69 dan 85).
Warna nyala yang dihasilkan oleh suatu unsur disebut spektrum emisi. Ketika atom diberi sejumlah energi, elektron-elektron yang berada pada keadaan dasar akan tereksitasi menuju kulit yang lebih tinggi dengan tingkat energi yang lebih tinggi. elektron yang tereksitasi dapat kembali kekeadaan dasar atau mengemisi dengan memancarkan sejumlah energi dalam bentuk radiasi elektromagnetik dengan panjang gelombang tertentu (Syamsidar, 2013: 64).
Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada percobaan ini adalah bagaimana warna uji nyala dan kelarutan dari unsur logam alkali dan alkali tanah?
Tujuan
Tujuan pada percobaan ini untuk mengetahui warna uji nyala dan kelarutan dari logam alkali dan alkali tanah.
Manfaat
Manfaat dari dari percobaan ini yaitu untuk mengetahui lebih lanjut tentang spektrum warna yang dihasilkan logam alkali dan alkali tanah serta mengetahui kelarutannya apabila direaksikan dengan senyawa lain.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Unsur Logam
Logam adalah salah satu unsur dari ketiga kelompok unsur yang dibedakan oleh sifat ionisasi dan ikatan bersamaan dengan metalloid dan nonlogam. Dalam kimia, sebuah logam (bahasa Yunani: Metallon) adalah sebuah unsur kimia yang siap membentuk ion (kation). Logam terbagi atas logam alkali dengan unsur litium (Li), natrium (Na), kalium (K), Rubidium (Rb), Cesium (Cs) dan fransium (Fr) dan alkali tanah dengan unsur berkelium (Be), Magnesium (Mg), Kalsium (Ca), stronsium (Sr), barium (Ba) dan radium (Ra). Selain dari golongan alkali dan alkali tanah yang termasuk dalam unsur logam yaitu logam transisi (Baharuddin, dkk., 2013: 59).
Logam memiliki sifat fisis yaitu dapat memantulkan cahaya yang datang dengan panjang gelombang dan frekuensi yang sama sehingga terlihat lebih mengkilat, dapat menghantarkan panas dan arus listrik, memiliki kemampuan diubah bentuk, umumnya memiliki kepadatan yang tinggi sehingga terasa berat dan dapat ditarik oleh magnet. Sifat kimia yaitu memiliki energi ionisasi yang rendah sehingga lebih mudah melepaskan elektronnya, umumnya logam cenderung memiliki titik leleh dan titik didih yang tinggi karena kekuatan ikatan logam, kebanyakan logam oksida yang larut dalam air bereaksi untuk membentuk logam hidroksida dan bereaksi dengan asam membentuk garam dan air (Baharuddin, dkk., 2013: 60-61).
Logam Alkali
Kata “alkali” berasal dari bahasa arab yang berarti abu, mengacu pada sumber asli zat alkali. Dalam sistem periodik unsur, unsur-unsur yang terletak pada golongan IA yaitu litium (Li), natrium (Na), kalium (K), rubidium (Rb), sesium (Cs) dan fransium (Fr) yang disebut logam alkali. Berdasarkan konfigurasi elektron diketahui semua unsur alkali memiliki satu elektron yang terletak pada kulit terluar. Persamaan ini yang menyebabkan unsur-unsur alkali memiliki sifat kimia yang mirip. Walaupun memiliki sifat yang mirip tetapi unsur-unsur alkali keberadaanya di alam tidak bersama-sama. Hal ini disebabkan karena ukuran-ukuran ion alkali yang sangat berbeda satu dengan yang lainnya (Syamsidar, 2013: 57).
Logam alkali adalah sekelompok unsur kimia pada golongan IA dalam tabel periodik kecuali hidrogen yang merupakan unsur nonlogam. Semua unsur pada kelompok ini sangat reaktif sehingga secara alami tak pernah ditemukan dalam bentuk tunggal. Untuk menghambat reaktivitas, unsur-unsur logam alkali harus disimpan dalam medium minyak. Unsur-unsur logam alkali merupakan unsur-unsur logam alkali mudah melepaskan 1 elektron valensinya untuk mencapai konfigurasi elektron gas mulia yang stabil dan membentuk ion positif. Unsur-unsur logam alkali merupakan unsur yang sangat reaktif dan mudah bereaksi dengan unsur-unsur lain. Selain itu unsur golongan logam alkali bersifat sebagai reduktor yang kuat. Unsur-unsur logam alkali memiliki sifat energi ionisasi dan keelektronegatifannya rata-rata yang paling rendah (Baharuddin, dkk., 2013: 61-61).
Natrium (Na) dan kalium (K) sangat melimpah di kerak bumi sedangkan litium (Li), rubidium (Rb) dan sesium (Cs) kelimpahannya sangat sedikit. Kelimpahan logam alkali yang paling sedikit adalah fransium (Fr). Semua logam alkali hanya dapat diisolasi dari leburan garam halidanya melalui proses elektrolisis. Garam-garam halida mempunyai titik lebur yang tinggi, oleh karena itu umumnya ditambahkan dengan garam halida lainnya untuk menurunkan titik lebur garam halidanya (Syamsidar, 2013: 57-58).
Natrium (Na) dan kalium (K) melimpah di litosfer terdapat sejumlah besar kandungan garam batuan, narium klorida (NaCl) dan karnalit yang dihasilkan dari penguapan air laut dalam jangka waktu geologis. Litium (Li) dan natrium (Na) dapat diperoleh dengan elektrolisis garam leburan atau eutetik bertitik leleh rendah seperti kalsium klorida (CaCl2) dan natrium klorida (NaCl), karena titik didihnya yang lebih rendah dan mudah menguap kalium (K), rubidium (Rb) dan sesium (Cs) tidak dapat diperoleh dengan elektrolisis, namun diperoleh dengan mengolah lelehan klorida dan natrium. Logam-logam murninya diisolasi. Litium (Li), natrium (Na) dan kalium (K) dapat tersebar dengan pelelehan, pada berbagai padatan pendukung seperti natrium karbonat (Na2CO3). Unsur-unsur ini dipakai sebagai kalatalis. Litium (Li) biasanya yang paling kurang reaktif sedangkan sesium (Cs) adalah yang paling reaktif (Cotton dan Geoffray, 1989: 251-253).
Natrium hidroksida (NaOH), merupakan larutan basa yang tergolong mudah larut dalam air dan termasuk basa kuat yang dapat terionisasi dengan sempurna. Menurut teori Arrhenius basa adalah zat yang dalam air menghasilkan ion OH dan ion positif. Natrium hidroksida murni berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pelet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50%, dan bersifat lembab cair dan secara spontan menyerap karbon dioksida dari udara bebas, sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika dilarutkan dan juga larut dalam etanol dan metanol (Nesimnasi, dkk., 2015: 32).
Logam Alkali Tanah
Unsur-usur golongan IIA disebut juga alkali tanah sebab unsur-unsur tersebut bersifat basa dan banyak ditemukan dalam mineral tanah. Logam alkali tanah umumnya reaktif, tetapi kurang jika dibandingkan dengan logam alkali. Namun dengan 2 elektron valensi (ns2) yang dimiliki logam alkali tanah pun mudah melepaskan elektronnya membentuk senyawa dengan tingkat oksidasi +2. Logam alkali tanah terdiri dari 6 unsur yang terdapat di golongan IIA yang termasuk di dalamnya adalah berilium (Be), magnesium (Mg), kalsium (Ca), stronsium (St), barium (Ba) dan radium (Ra). Logam karena memiliki sifat-sifat seperti logam, disebut alkali karena mempunyai sifat alkalin atau basa jika direaksikan dengan air. Istilah tanah karena oksidansinya sukar dalam air dan banyak ditemukan dalam bebatuan kerak bumi (Baharuddin, dkk., 2013: 64).
Kalsium (Ca), stronsium (St), barium (Ba) dan radium (Ra) membentuk senyawa ion bermuatan +2. Magnesium (Mg) kadang-kadang bersifat kovalen dan berilium (Be) lebih dominan kovalen. Kekerasan alkali tanah berkurang dari atas kebawah akibat kekuatan ikatan antaratom menurun. Hal ini disebabkan jarak antaratom pada logam alkali tanah bertambah panjang. Semua unsur alkali tanah bereaksi langsung dengan unsur halogen membentuk garam halida (Syamsidar, 2013: 75-77).
Etanol merupakan senyawa alkohol yang dihasilkan dalam fermentasi bahan makanan yang mengandung karbohidrat. Proses fermentasi yang melibatkan aktifitas mikroorganisme ini menjadi proses pengubahan karbohidrat menjadi etanol (Sutanto, 2006:123).
Magnesium (Mg), kalsium (Ca), stronsium (St) dan barium (Ba) tersebar secara luas dalam mineral-mineral dan di dalam air laut. Anggota kedua golongan alkali tanah yaitu magnesium (Mg) dan berilium (Be) memiliki sifat yang hampir memiliki sifat kimiawi yang bersifat ionik. Ion magnesium (Mg2+) mempunyai kemampuan kepolaran yang lebih tinggi dan adanya kecenderungan menetapkan ke perilaku nonionik. Magnesium (Mg) membentuk ikatan-ikatan dengan karbon secara mudah. Seperti Be(OH)2 dan Ma(OH)2 larut sebagian dalam air sedangkan hidroksida lainnya larut dalam air dan sangat basa (Cotton dan Geoffrey, 1989: 261-262).
Spektrum Warna Logam Alkali dan Logam Alkali Tanah
Spektrum emisi adalah yang dihasilakan oleh suatu unsur. Spektrum emisi yang dihasilkan berkaitan dengan model atom Neils Bohr. Atom yang diberikan sejumlah energi, elektron-elektronnya yang berada pada keadaan dasar akan tereksitasi menuju kulit yang lebih tinggi. Elektron yang tereksitasi dapat kembali keadaan dasar atau mengimisi dengan memancarkan sejumlah energi dalam bentuk radiasi elektromagnetik dengan panjang gelombang (λ) tertentu. Spektrum emisi terjadi karena larutan garamnya dibakar menggunakan nyala bunsen. Spektrum emisi yang dihasilkan setiap unsur berbeda antara yang satu dengan yang lainnya (Syamsidar, 2013: 64).
Ketika litium (Li) dibakar akan menghasilkan warna merah, natrium (Na) menghasilakan warna kuning, kalium (K) menghasilkan warna pink, rubidium (Rb) menghasilkan warna merah lembayung dan sesium (Cs) menghasilakan warna merah lembayung. Warna-warna yang dihasilkan oleh logam unsur-unsur alkali sangat indah sehingga logam-logam alkali banyak dimanfaatkan dalam pembuatan kembang api atau mercun (Syamsidar, 2013: 65).
Pembakaran unsur-unsur alkali tanah atau garamnya dalam nyala bunsen dapat memancarkan spektrum warna khas. Stronsium (St) berwarna krimson atau merah, barium (Ba) menghasilkan warna hijau-kuning, dan magnesium (Mg) menghasilkan warna putih terang. Logam-logam alkali tanah diproduksi melalui proses elektrolisis lelehan garam halida (biasanya klorida) atau melalui reduksi halida atau oksida. Suatu Garam-garam halida alkali tanah menghasilkan nyala beraneka ragam warna, sering dipakai sebagai bahan untuk membuat kembang api (Syamsidar, 2013: 85).
Manfaat Logam Alkali dan Logam Alkali Tanah
Manfaat dari unsur-unsur logam alkali yaitu natrium (Na) digunakan sebagai cairan pendingin pada nuklir, natrium hidroksida (NaOH) digunakan dalam industri plastik, natrium klorida (NaCl) digunakan sebagai garam dapur dan natrium karbonat (Na2CO3) untuk industri pembuatan detergen, kaca san peluanak air (penghilang kesadahan air). Litium (Li) untuk pembuatan pelumas bertemperatur tinggi dan pembuatan baterai. Kalium dalam bentuk kalium klorida (KCl) sebagai bahan pupuk, kalium nitrat (KNO3) sebagai bahan peledak. Rubidium (Rb) dan secium (Cs) sebagai permukaan peka cahaya dalam sel fotolistrik yang dapat mengubah energi cahaya menjadi energi listrik (Baharuddin, dkk., 2013: 63).
Manfaat golongan alkali tanah yaitu magnesium hidroksida (Mg(OH)2) untuk obat maag atau sebagai bahan pasta gigi, kalsium hidroksida (Ca(OH)2) untuk industri baja, kalsium karbonat (CaCO3) untuk bahan obat, barium (Ba) dan stonsium (St) digunakan sebagai bahan pembuatan kembang api karena member warna nyala yang bagus dan menarik (Baharuddin, dkk., 2013: 65-66).
BAB III
METODE PERCOBAAN
Waktu dan Tempat
Hari/Tanggal : Senin/23 November 2015
Pukul : 13:00 – 14:56 WITA
Tempat : Laboratorium Anorganik Fakultas Sains danTeknologi
UIN Alauddin Makassar
Alat dan Bahan
Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah cawan penguap, tabung reaksi, pipet tetes 3 mL, spatula dan rak tabung.
Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah etanol (C2H5OH) 95%, korek api, larutan barium klorida (BaCl) 0,05 M, larutan kalsium klorida (CaCl2) 0,05 M, magnesium klorida (MgCl2) 0,05 M, ¬larutan natrium karbonat (Na2CO3) 0,05 M, larutan natrium klorida (NaCl) 0,05 M, larutan stonsium klorida (StCl2) 0,05 M dan smpel x.
Prosedur Kerja
Uji warna nyala
Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan. Memasukkan etanol (C2H5OH) 95% ke dalam cawan penguap. Kemudian menambahkan sampel A ke dalam cawan penguap. Selanjutnya membakar dan mengamati warna yang terjadi. Mengulagi percobaan dengan mengganti sampel A dengan sampel lain.
Uji Kelarutan
Memasukkan 2 mL larutan magnesium klorida (MgCl2) ke dalam tabung reaksi I, II dan III. Kemudian menambahkan 2 mL larutan natrium hidroksida (NaOH) 0,05 M ke dalam tabung reaksi I. Menambahkan 2 mL larutan natrium sulfat (Na2SO4) 0,05 M ke dalam tabung reaksi II dan menambahkan larutan natrium karbonat (Na2CO3) 0,05 M ke dalam tabung reaksi III. Selanjutnya mengamati kelarutan yang terjadi. Mengulangi percobaan dengan mengganti larutan dan perlakuan yang sama yaitu larutan barium klorida (BaC2), stronsium klorida (StCl2) dan kalsium klorida (CaCl2).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Pengamatan
Tabel pengamatan
Tabel 4.1. pengujian warna nyala
No Contoh sampel Warna nyala Unsur Gambar
1 Sampel A Jingga Kalsium (Ca)
2 Sampel B Jingga Natrium (Na)
3 Sampel C Merah Stronsium (St)
4 Sampel D Hijau Barium (Ba)
5 Sampel E Biru Kalium (K)
6 Sampel F Putih Magnesium (Mg)
Tabel 4.2. pengujian kelarutan
No Larutan Warna Kelarutan Gambar
1 BaCl2 + NaOH Bening Mudah larut
2 BaCl2 + Na2SO4 Keruh Sukar larut
3 BaCl2 + Na2CO3 Keruh Sukar larut
4 CaCl2 + NaOH Bening Mudah larut
5 CaCl2 + Na2SO4 Keruh Sukar larut
6 CaCl2 + Na2CO3 Bening Larut
7 MgCl2 + NaOH Bening Mudah larut
8 MgCl2 + Na2SO4 Bening Larut
9 MgCl2 + Na2CO3 Bening Larut
10 SrCl2 + NaOH Bening Mudah larut
11 SrCl2 + Na2SO4 Keruh Sukar larut
12 SrCl2 + Na2CO3 Keruh Sukar larut
Reaksi
BaCl2 + 2NaOH Ba(OH)2 + 2NaCl
BaCl2 + Na2SO4 BaSO4 + 2NaCl
BaCl2 + Na2CO3 BaCO3 + 2NaCl
CaCl2 + 2NaOH Ca(OH) + 2NaCl
CaCl2 + Na2SO4 CaSO4 + 2NaCl
CaCl2 + Na2CO3 CaCO3 + 2NaCl
MgCl2 + 2NaOH Mg(OH¬)2 + 2NaCl
MgCl2 + Na2SO4 MgSO4+ 2NaCl
MgCl2 + Na2CO3 MaCO3 + 2NaCl
SrCl2 + 2NaOH Sr(OH)2 + 2NaCl
SrCl2 + Na2SO4 SrSO4 + 2NaCl
SrCl2 + Na2CO3 SrCO3 + 2NaCl
Pembahasan
Spektrum warna terjadi karena larutan garamnya dibakar menggunakan nyala bunsen. Spektrum emisi yang dihasilkan setiap unsur berbeda antara yang satu dengan yang lainnya (Syamsidar, 2013: 64).
Pengujian warna nyala dilakukan dengan menggunakan etanol (C2H5OH) yang ditambahkan dengan sampel yang akan diuji. Pengujian etanol (C2H5OH) ini karena logam alkali maupun logam alkali tanah tidak larut dalam etanol sehingga jika dibakar tidak akan mempengaruhi warna yang dihasilkan. Pengujian warna nyala didapatkan unsur berdasarkan nyala yang dipancarkan yaitu natrium (Na) berwarna jingga. Hasil ini tidak sesuai dengan teori yang ada dikarenakan penggunaan alkohol yang sedikit dan sampel yang terlalu banyak. Kalsium (Ca) dengan warna jingga, stronsium (St) warna merah, barium (Ba) warna hijau, kalium (K) warna merah, magnesium (Mg) warna putih. Hasil yang diperoleh sesuai dengan teori (Syamsidar: 2013) bahwa magnesium (Mg) menghasilkan warna putih, barium (Ba) warna hijau, stronsium (St) warna merah, dan barium (Ba) warna hijau-kuning.
Pengujian kelarutan dilakukan dengan menguji kelarutan barium klorida (BaCl2), magnesium klorida (MgCl2), stronsium klorida (StCl2) dan kalsium klorida (CaCl) dengan menambahkan larutan pereaksi yaitu natrium hidroksida (NaOH), natrium sulfat (Na2SO4) dan natrium karbonat (Na2CO3). Hasil pengujian menghasilkan uji kelarutan yaitu barium klorida (BaCl2), magnesium klorida (MgCl2), stronsium klorida (StCl2) dan kalsium klorida (CaCl) mudah larut dalam natrium hidroksida (NaOH) dan sukar larut dalam natrium sulfat (Na2SO4) dan natrium karbonat (Na2CO3). Menurut teori (Cotton dan Geoffrey: 1989) magnesium (Mg) membentuk ikatan-ikatan dengan karbon secara mudah. Seperti Be(OH)2 dan Ma(OH)2 larut sebagian dalam hidroksida basa seperti natrium hidroksida (NaOH) dan sukar larut dalam garan sulfat dan karbonat.
BAB V
KESIMPULAN
Kesimpulan
Kesimpulan pada percobaan ini adalah uji warna nyala pada alkali dan alkali tanah yaitu kalium (K) warna biru, magnesium (Mg) warna putih, barium (Ba) warna hijau, natrium (Na) warna jingga dan kalsium (Ca) berwarna jingga. Kelarutan alkali dan alkali tanah adalah dapat larut dalam pelarut basa seperti natrium hidroksida (NaOH) dan sukar larut dalam natrium sulfat (Na2SO4) dan natrium karbonat (Na2CO3).
Saran
Saran yang diberikan untuk percobaan selanjutnya adalah sebaiknya menggunakan pereaksi lainnya seperti etilendiaminatetraasetat (EDTA) untuk menguji kelarutan kalsium (Ca) (Cotton dan Geoffray, 1989: 266).
DAFTAR PUSTAKA
Baharuddin, Maswati, dkk. Kimia Dasar II. Makassar: Alauddin Press, 2013.
Cotton, Albert dan Geoffrey Wilkinson. Anorganic General Chemistry. Terj. Sahati Suharta, Kimia Anorganik Dasar. Jakarta: UI-Press, 1976.
Nesimnasi, Jorhans, dkk. “Pengaruh Perlakuan Alkali (NaOH) pada Serat Agave Cantula Terhadap Kekuatan Tarik Komposit Polyester”. Teknik Mesin 02, no. 01 (2015): h. 31-38.
Sutanto, Teja Dwi dan Agus Martono. “Studi Kandungan Etanol dalam Tapai Hasil Fermentasi Beras Ketan Hitam dan Putih”. Gradien 2, no. 1 (2006): h. 123-125.
Syamsidar. Dasar Reaksi Kimia Anorganik. Makassar: Alauddin Press, 2013.
COD , BOD dan CO
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pencemaran air dapat menjadi masalah, ragional maupun lingkungan global dan sangat berhubungan dengan pencemaran udara serta pencemaran lainnya yang saling berkaitan. Pencemaran air terjadi karena penambahan unsur atau organisme laut ke dalam air, sehingga pemanfaatannnya dapat terganggu. Pencemaran air dapat menyebabkan kerugian karena adanya gangguan oleh zat-zat beracun yang bermuatan bahan organik yang berlebih. Keadaan ini akan menyebabkan oksigen terlarut dalam air pada kondisi yang akan merusak kadar kima kesadahan dalam air (Salmin, 2005: 21).
Rusaknya kadar kimia air tersebut akan berpengaruh pada sifat dan fungsi air Dampak ini disebabkan oleh adanya pencemaran air yang disebabkan oleh adanya berbagai hal seperti hasil buangan bahan organik yang akan mempengarui kecepatan difusi oksigen. Dengan melihat kandungan oksigen yang terlarut di dalam air dapat ditentukan dengan seberapa jauh tingkat pencemaran air di lingkungan telah terjadi (Wardhani, 2001: 90-91).
Salah satu cara untuk menilai seberapa jauh air lingkungan telah tercemar adalah dengan melihat kandungan yang terlarut di dalam air. Cara yang ditempuh untuk maksud tersebut adalah denga uji COD singkatan dari Chemical Oxygen Demand atau kebutuhan oksigen kimia untuk reaksi oksidasi terhadap bahan buangan di dalam air dan BOD singkatan dari Biological Oxygen Demand atau kebutuhan oksigen biologi untuk memecah bahan buangan di dalam air. Melalui kedua cara tersebut dapat ditentukan tingkat pencemaran pada air lingkungan (Wardhana, 2001: 91-92).
Berdasarkan uraian tersebut maka dilakukan percobaan tentang penentuan CO, BOD dan COD air danau Mawang Lembah Biru dengan membandingkan nilai standar DO, BOD dan COD air bersih.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada percobaan ini adalah berapa nilai DO, BOD dan COD dari air danau Mawang Lembah Biru?
Tujuan Percobaan
Tujuan pada percobaan ini adalah untuk mengetahui berapa nilai DO, BOD dan COD dari danau Mawang Lembah Biru.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pencemaran Lingkungan
Pencemaran lingkungan umumnya terjadi akibat kemajuan teknologi dalam usaha meningkatkan kesejahteraan hidup. Misalnya pencemaran air, udara, tanah. Sebagai akibat merosotnya kualitas pada air, udara dan tanah sebagai akibat yang menyebabkan kerugian dan ancaman kelestarian lingkungan. Zat atau bahan yang dapat mengakibatkan pencemaran yaitu disebut polutan. Syarat-syarat suatu zat disebut polutan apabila keberadaanya dapat menyebabkan kerugian terhadap makhluk hidup. Suatu zat dapat dikatakan polutan apabila jumlanya melebihi jumlah normal, berada pada waktu yang tidak tepat dan berada pada tempat yang tidak tepat (Rama, dkk., 2009:141-142).
Menurut Rama, dkk. (2009: 143), parameter yang merupakan indikator terjadinya pencermaran adalah:
Parameter kimia meliputi karbon dioksida (CO2), alkalinitas, fosfor dan logam-logam berat.
Parameter biokimia meliputi BOD (Biochemical Oxigen Demand), yaitu jumlah oksigen dalam air. Cara pengukurannya adalah dengan menyimpan sampel air yang telah diketahui kandungan oksigennya selama 5 hari. Kemudian kadar oksigennya diukur lagi. BOD digunakan untuk mengukur banyaknya pencemar organik. Menurut materi kesehatan, kandungan oksigen dalam air minum atau BOD tidak boleh kurang dari 3 ppm.
Parameter biologis meliputi ada atau tidaknya mikroorganisme, misalnya bakteri, coli, virus, dan plankton.
Parameter fisis meliputi temperatur, warna, rasa, bau kekeruhannya dan radioaktivitas.
Pencemaran Air
Air merupakan sumber daya alam yang dapat dengan mudah terkontaminasi oleh aktivitas, tetapi akan dapat dengan mudah terkontaminasi oleh aktivitas manusia. Air banyak digunakan oleh manusia untuk tujuan yang bermacam-macam sehingga dengan mudah dapat tercemar. Menurut tujuan penggunaanya, yaitu ,memiliki kriterian berbeda-beda. Pencemaran air dapat menjadi menjadi masalah, region maupun lingkungan global dan sangat berhubungan dengan pencemaran udara, lahan, atau daratan, pada saat udara yang tercemar jatuh ke bumi bersama air hujan, maka air tersebut sudah tercemar (Darmono, 2001: 28).
Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Oleh karena itu, sumber air sangat dibutuhkan untuk dapat menyediakan air yang baik dari segi kuantitas dan kualitasnya. Umumnya sumber air minum berasal dari air permukaan (surface water), air tanah (ground water), dan air hujan. Termasuk air permukaan adalah air sungai dan air danau, sedangkan air tanah dapat berupa air sumur dangkal, air sumur dalam, maupun mata air (Tumanggor, dkk., 2012: 1).
Danau atau waduk merupakan penampung alami dalam pengumpulan unsur nutrisi, bahan padat tersuspensi dan baahan kimia toksit yang akhirnya mengendap di dasarnnya. Penampungan bahan-bahan tersebut berlangsung bertahun-tahun bahkan berates-ratus tahun pada danau alami, sehingga proses penangkalan tidak dapat dihindarkan. Danau lebih banyak terkontaminasi daripada sungaikontaminasi terjadi dari unsur nutrisi tanaman, minyak, peptisida dan substansi toksit yang dapat merusak kehidupan di dasar danau dan ikan yang hidup di dalamnya. Kondisi hujan asam dan asam dari aliran air yang tumpah ke danau, merupakan masalah serius pada danau atau waduk karena asam dapat tertimbun di dalamnya. Danau akan mulai mendangkal dan dipenuhi unsur nutrisi tanaman sehingga ganggang atau tanaman air lainnya akan tumbuh subur di tepi danau (Darmono, 2002: 40).
Bahan pencemar yang masuk ke muara sungai, danau atau waduk akan tersebar dan akan mengalami proses pengendapan, sehingga terjadi penyebaran zat pencemar. Pengendapan yang tersebar di perairan akan terakumulasi dalam sedimen kemudian akan terakumulasi pada biota yang ada di dalam perairan (Wardani, dkk., 2014: 2).
BOD (Biologi Oxygen Demand)
Biologi Oxigen Demand atau kebutuhan oksigen biologis adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme di dalam air lingkungan untuk memecah (mendegradasi) bahan buangan organik yang ada di dalam air lingkungan tersebut. Sebenarnya peristiwa penguraian bahan buangan organik melalui proses oksida oleh mikroorganisme di dalam air lingkungan adalah proses alamiah yang mudah terjadi apabila air lingkungan mengandung oksigen yang cukup (Wardhana, 2001: 93).
Umumnya air lingkungan atau air alam yang mengandung mikroorganisme yang dapat memakan, memecah, mengurai bahan buangan organik. Jumlah mikroorganisme di dalam air lingkungan tergantung pada tingkat kebersihan air. Air yang bersih biasanya mengandung mikroorganisme yang relatif lebih banyak dibandingkan dengan air yang telah tercemar oleh bahan buangan. Air lingkungan yang tercemar oleh bahan buangan yang bersifat antiseptik atau beracun, banyak mengandung bahan yang sangat berbahaya bagi kehidupan mikroorganisme yang hidup di dalam air sehingga jumlah mikroorganisme yang hidup di dalam air tersebut relatif sedikit. Untuk keadaan seperti ini perlu penambahan mikroorganisme yang memerlukan oksigen untuk memecah bahan buangan organik (Wardhana, 2001: 93).
COD (Chemical Oxygen Demand)
Chemical Oxygen Demand atau kebutuhan oksigen kimia adalah jumlah oksigen yang diperlukan agar bahan buangan yang ada di dalam air dapat tekroksidasi melalui reaksi kimia. Dalam hal ini, bahan buangan organik akan dioksidasi oleh kalium bikromat (K2Cr2O7¬) menjadi gas dan air (H2O) serta sejumlah ion krom. kalium bikromat (K2Cr2O7¬) digunakan sebagai sumber oksigen (oxidizing agent). Oksidas terhadap bahan buangan organik akan mengikuti reaksi berikut:
CaHbOc + Cr2O72- + H+ katalis CO2 + H2O + Cr3+
Reaksi ini diperlukan pemanasan dan juga penambahan katalisator perak sulfat (Ag2SO4) untuk mempercepat reaksi. Apabila dalam bahan buangan diperkirakan ada unsur klorida yang dapat mengganggu reaksi maka perlu penambahan merkuri sulfat (HgSO4) untuk menghilangkan penganggu tersebut. Seberapa jauh tingkat pencemaran oleh bahan buangan organik tidak dapat diketahi secara pasti. penambahan merkuri sulfat (HgSO4) adalah untuk mengikat ion klor menjadi merkkuri klorida (HgCl2) mengikuti reaksi berikut ini:
Hg2+ + 2Cl- HgCl2
Warna larutan air lingkunga yang mengandung bahan buangan organik sebelum reaksi oksidasi adalah kuning. Setelah reaksi oksidasi selesai maka akan berubah menjadi hijau. Jumlah oksigen terlarut yang diperlukan untuk reaksi oksidasi terhadap bahan buangan organik sama dengan jumlah kalium bikromat (K2Cr2O7¬) yang dipakai pada reaksi oksidasi, berarti makin banyak tercememar oleh bahan buangan organik. Dengan demikian, maka seberapa jauh tingkat pencemaran air lingkungan dapat ditentukan (Wardhana, 2001: 92-93).
Umumnya air lingkungan yang telah tercemar kandungan oksigennya sangat rendah. Hal itu karena oksigen yang terlarut di dalam air di serap oleh mikroorganisme untuk memecah bahan bauangan organik sehingga menjadi bahan yang mudah menguap (ditandai dengan bau busuk). Selain dari itu, bahan buangan organik juga dapat bereaksi dengan oksigen yang terlarut di dalam air mengikuti reaksi oksidasi. Makin banyak bahan buangan organik yang ada di dalam air, maka sedikit sisa kandungan oksigen yang terlarut di dalamnya. Bahan buangan organik biasanya berasal dari insudtri kertas, pengolahan bahan makanan dan lain sebagainya. Dengan melihat kandungan oksigen terlarut dalam air dapat ditentukan seberapa jauh tjngkat pencemaran air lingkungan yang terjadi (Wardhana, 2001: 91).
Tanaman yang ada di dalam air dengan bantuan sinar matahari dapat melakukan fotosintesis yang dapat menghasilkan oksigen. Oksigen yang dihasilkan dari fotosintesis ini akan larut di dalam air. Selain dari itu, oksigen yang ada di udara juga masuk kedalam air melalui proses difusi yang secara lambat menembus permukaan air. Konsentrasi oksigen yang terlarut tergantung pada tingkat kejenuhan air. Suhu dan tekanan juga mempengaruhi konsentrasi dan kelarutan oksigen di dalam air karena tekanan akan mempengaruhi kecepatan difusi oksigen dari udara ke dalam air (Wardhana, 2001: 90-91).
BAB III
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat
Hari / Tanggal : Senin / 30 November 2015
Pukul : 13:00-16:30 WITA
Tempat : Laboratorium Anorganik Fakultas Sains dan Teknologi
UIN Alauddin Makassar
Alat dan Bahan
Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah hot plate, buret asam 50 mL, erlenmeyer 250 mL, erlenmeyer 100 mL, gelas kimia 100 mL, gelas ukur 100 mL, botol winkler, pipet skala 10 mL, pipet skala 5 mL, pipet tetes 2 mL, batal pengaduk, bulp, statif, klem dan botol semprot.
Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah air danau (H2O), akuades (H2O), larutan amilum (C¬6H11O8)n, larutan alkali-iodida-azida (NaOH-KI), larutan asam oksalat (H2C2O4), larutan asam sulfat (H2SO4) p.a, larutan asam sulfat (H2SO4) 4N, larutan permanganat (KMnO4) 0,05 N, larutan mangan sulfat (MnSO4) 40%, larutan natrium tiosulfat (Na2S2O3) 0,025 N dan tissue.
Prosedur Kerja
Penentuan Dissovel Oxygen (DO-5)
Penentuan Dissovel Oxygen (DO-5) dilakukan dengan mengambil sampel air danau dengan cara membuka botol winkler kemudian mencelupkan ke dalam danau sampai botol terendam. Menutup botol winkler dengan mengusahakan agar tidak terdapat gelembung oksigen di dalamnya dan menginkubasi selama 5 hari.
Penentuan Dissovel Oxygen (DO¬-0)
Penentuan Dissovel Oxygen (DO-0) dilakukan dengan mengambil sampel air danau dengan cara membuka botol winkler kemudian mencelupkan ke dalam danau sampai botol terendam. Menutup botol winkler dengan mengusahakan agar tidak terdapat gelembung oksigen di dalamnya dan dinyatakan sebagai DO-0.
Penentuan Dissovel Oxygen (DO)
Menambahkan sampel 2 mL larutan mangan sulfat (MnSO4) 40% ke dalam sampel, mendiamkan beberapa saat. Kemudian menambahkan 2 mL larutan alkali-iodida-azida (NaOH-KI) dan mendiamkan beberapa saat hingga terbentuk endapan warna coklat. Menambahkan 2 mL larutan asam sulfat (H2SO4¬) p.a hingga larutan berwarna kuning. Menambahkan dengan beberapa teter larutan amilum (C6H11O8)n hingga berwarna biru. Kemudian menitrasi dengan larutan natrium tiosulfat (Na2S2O3) 0,025 N hingga larutan menjadi bening. Mengamati warna dan volume yang digunakan.
Penentuan Chemical Oxygen Demand (COD)
Penentuan Chemical Oxygen Demand (COD) Memasukkan 100 mL sampel air danau (H2O) ke dalam erlenmeyer. Kemudian menambahkan dengan 5 mL larutan asam sulfat (H2SO4) dan 10 mL larutan kalmium permanganat (KMnO4) 0,05 N, lalu memanaskan hingga larutan tersebut mendidih. Menambahkan 10 mL larutan asam oksalat (H2C2O4). Selanjutnya menitrasi dengan asam permanganat (KMnO4)0,05 N selagi larutan masih panas hingga warna menjadi merah mudah. Mengamati perubahan yang terjadi.
Penetuan Biochemical Oxygen Demand (BOD)
Penentuan Biochemical Oxygen Demand (BOD) dilakukan dengan mengurangi nilai DO-0 dengan DO-5.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Pengamatan
Tabel Pengamatan
Tabel 4.1. Penentuan Dissolved Oxygen (DO-5)
Sebelum penambahan bahan Setelah penambahan bahan
Bening MnSO4 NaOH-KI H2SO4 (C6H11O8) Na2S2O3
Keruh Coklat, ada endapan Kuning Biru Bening
Tabel 4.2. Penentuan Dissolved Oxygen (DO-0)
Sebelum penambahan bahan Setelah penambahan bahan
Bening MnSO4 NaOH-KI H2SO4 (C6H11O8) Na2S2O3
Keruh Coklat, ada endapan Kuning Biru Bening
Tabel 4.3. Penentuan Chemical Oxygen Demand (COD)
Sebelum penambahan bahan Setelah penambahan bahan
Bening H2SO4 KMnO4 H2C2O4 Titrasi KMnO4
Bening Ungu Ungu Merah muda ada endapan
Reaksi
MnSO4 (aq) + 2NaOH (aq) Mn(OH)2 (aq) + Na2SO4 (aq)
2Mn(OH)2 (aq) + O2 (aq) 2MnO2 + 2H2O (l)
MnO2 (s) + 2KI (aq) + 2H2O (l) (H_2 〖SO〗_4)/ Mn(OH)2 (aq) + I2 (aq) + 2KOH (aq)
I2 (aq) + 2Na2S 2O3 Na2S4O6 + 2NaI
Analisis Data
Diketahui :
M Na2S2O3 = 0,025 N : 0,025 ekiv/L
Be O2 = 8 g/ekiv
V air danau = 100 mL
V titrasi (DO-5) = 3,7 mL
Be KMnO4 = 31,6 g/ekiv
V KMnO4 = 3,8 mL
V titrasi (DO-0) = 7,6 mL
Ditanyakan :
DO-5 = …?
DO-0 = …?
COD = …?
BOD = …?
Penentuan DO-0
DO-0 = V_(Na_2 S_2 O_3 x N Na_2 S_2 O_3 x Be O_2 x 1000)/V_sampel
= (7,6 mL x 0,025 ekiv⁄L x 8 g⁄(ekiv ) x 1000)/(100 mL)
= (152 g⁄L)/(100 )
= 15,2 g/L
= 15200 mg/L (ppm)
Penetuan DO-5
DO-5 = V_(Na_2 S_2 O_3 x N Na_2 S_2 O_3 x Be O_2 x 1000)/V_sampel
= (3,7 mL x 0,025 ekiv⁄L x 8 g⁄(ekiv ) x 1000)/(100 mL)
= (740 g⁄L)/(100 )
= 7,4 g/L
= 7800 mg/L (ppm)
Penentuan COD
COD = ((10+A)x B-(10 x C)x Be KMnO_4 x 1000)/V_sampel
= ((10+3,8 mL)x 0,05 ekiv⁄L-(10 x 0,05)x 31,6 g⁄ekiv x 1000)/(100 mL)
= (13,8 x 0,05-0,5 x 31600 g⁄L)/100
= 60,04 g/L (ppm)
= 60040 mg/L (ppm)
Penentuan BOD
BOD = (DO-0) – (DO-5)
= (15200 – 74000) g/L
= 7800 mg/L (ppm)
Pembahasan
COD singkatan dari Chemical Oxygen Demand atau kebutuhan oksigen kimia untuk reaksi oksidasi terhadap bahan buangan di dalam air dan BOD singkatan dari Biological Oxygen Demand atau kebutuhan oksigen biologi untuk memecah bahan buangan di dalam air. Melalui kedua cara tersebut dapat ditentukan tingkat pencemaran pada air lingkungan (Wardhana, 2001: 91-92).
Penentuan Dissolved Oxygen (DO) di lakukan dengan menentukan DO-5 dan DO-0. Penetuan DO-5 dilakukan dengan menginkubasi sampel air danau selama 5 hari denga tujuan agar tidak terjadi dekomposisi mikroorganisme sehingga tidak terjadi fotosintesis yang menghasilkan oksigen terlarut dan DO-0 tanpa inkubasi sebagai pembanding. Penambahan larutan mangan sulfat (MnSO4) beertujuan untuk mengikat oksigen bebas membentuk mangan hidroksida (Mn(OH)2). Penambahan larutan alkali-iodida-azida berfungsi sebagai katalisator sehingga terbentuk warna coklat dan terdapat endapan. Larutan asam sulfat (H2SO4) berfungsi untuk merombak dan melarutkan endapan yang ada dalam sampel air danau. Menambahkan larutan amilum (C6H11O8)n sebagai indikator dan dapat mengikat ion iod bebas hingga berwarna biru. Menitrasi dengan larutan tiosulfat (Na2S2O3) hingga berwarna bening untuk mendapatkan nilai DO air danau tersebut. Nilai dari DO-5 yang dihasilkan yaitu 7400ppm dan nilai DO-0 yaitu 15200 ppm sehingga diperoleh nilai dari Biological Oxygen Demandd (BOD) yaitu 7800 ppm. Menurut materi kesehatan, kandungan oksigen dalam air minum atau BOD tidak boleh kurang dari 3 ppm sehingga dapat disimpulkan bahwa air danau Mawang Lembah Biru tidak layak untuk di konsumsi.
Penentuan Chemical Oxygen Demand (COD) dilakukan dengan penambahan asam sulfat (H2SO4) untu mengikat oksigen dalam air karena bersifat sebagai pengoksidasi yang kuat. Menambahkan dengan kalium permangan (KMnO4) dengan pemanasan bertujuan untuk mempercepat proses reaksi penguraian reaksi terlarut. Larutan oksalat (H2C2O4) untuk melarutkan endapan sehingga menghasilkan warna ungu. Menitrasi dengan kalium permangan (KMnO4) untuk mendapatkan nilai Chemical Oxygen Demand (COD). Nilai COD yangdi hasilkan adalah 600400 ppm yang melebihi ambang batas yaitu 25 ppm.
BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
Kesimpulan pada percobaan ini adalah nilai DO yaitu DOpm-0 adalah 15200 ppm dan DO-5 adalah 7400 , nilai BOD 7800 ppm dan nilai COD adalah 60040 ppm.
Saran
Saran yang diberikan untuk percobaan selanjutnya adalah sebaiknya menggunakan sampel lain seperti air dalam waduk agar diketahui perbedaan Chemical Oxygen Demand (COD), Biochemical Oxygen Demand (BOD) dan Dissolved Oxygen (DO) yang terkandung di dalamnya.
DAFTAR PUSTAKA
Darmono. Lingkungan Hidup dan Pencemaran Hubungan dengan toksilokogi Senayawa Logam. Jakarta: UI-Press, 2001.
Rama, Bahaking, dkk. Pengetahuan Lingkungan. Makassar: Alauddin-Press, 2009.
Salmin. “Oksigen Terlarut (DO) dan kebutuhan Oksigen Biologi (BOD) sebagai Salah Satu Indikator Untuk Menentukan Kualitas Perairan”. Oseana XXX, no. 3 (2005): h. 21-26.
Tumanggor, Winnie, dkk. “Analisis Kandungan Pb pada Air Sumur Gali Masyarakat Di Sekitar Tempat Penimbunan Limbah Padat Industri dari Daur Ulang Aki Bekas Desa Sei Rotan Kecamatan Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Tahun 2012”. Departemen Kesehatan Lingkungan (2012): h. 1-7.
Wardhana, Wisnu Arya. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta: ANDI Offset, 1995.
.Wardani, dkk. “Akumulasi Logam Berat Timbal (Pb) pada Daging Kering Hijau (Perna Viridin) Di Muara Sungai Banjir Kanal Barat Semarang”. Unnes Life Scince 3 no. 1 (2014): h. 1-8.
Langganan:
Postingan (Atom)